A. Definisi
Aqidah
Aqidah menurut bahasa Arab (etimologi) berasal dari kata al`aqdu
– tautsiiqu yang berarti ikatan, at-tautsiiqu yang berarti kepercayaan atau
keyakinan yang kuat, al-ihkaamu yang artinya mengokohkan {menetapkan}, dan
ar-rabthu biquw-wah yang berarti mengikat dengan kuat.
Sedangkan menurut istilah (terminalogi}: `aqidah adalah iman yang teguh
dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya.
Jadi,
Aqidah Islamiyyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah
dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid dan taat kepada-Nya, beriman
kepada Malaikat-malaikat-Nya. Rasul–rasulnya kitab-kitab-Nya, hari Akhir,
takdir baik dan buruk dan mengimanai seluruh apa apa yang telah shahih tentang
Prinsip-prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada
apa yang menjadi Ijman' (konsensus) dari Salafush Shalih, serta seturuh
berita-berita qath'i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah yang
telah datetapkan menurut A!-Qur'an dan AsSunnah yang shahih serta ijma'
Salafush Shalih.
"Dan Barang siapa yang menta ’ati Allah
dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi
ni'mat Allah, yaitu: Nabi-nab, para shiddiqin, orang-orang yang matisyahrd dan
orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-barknya” (QS.
An-Nisa':69)
B. Pembagian Aqidah
Walaupun
masalah qadha' dan qadar menjadi ajang perselisihan di kalangan umat Islam,
tetapi Allah telah membukakan hati para hambaNya yang beriman, yaitu para Salaf
Shalih yang mereka itu senantiasa rnenempuh jalan kebenaran dafam pemahaman dan
pendapat. Menurut mereka qadha' dan qadar adalah termasuk rububiyah Allah atas
makhlukNya. Maka masalah ini termasuk ke dalam salah satu di antara tiga macam
tauhid menurut pembagian ulama:
Pertama:
Tauhid AI-Ufuhiyyah, ialah mengesakan Allah
dalam ibadah, yakni beribadah hanya kepada Allah dan karenaNya semata.
Kedua:
Tauhid Ar-Rububiyyah, ialah rnengesakan Allah dalam perbuatanNya, yakni
mengimani dan meyakini bahwa hanya Allah yang Mencipta, menguasai dan mengatur
alam semesta ini.
Ketiga:
Tauhid Al-Asma' was-Sifat, ialah
mengesakan Allah dalam asma dan sifatNya. Artinya mengimani bahwa tidak ada
makhluk yang serupa dengan Allah Subhanahu wa Ta'a(a. dafam dzat, asma maupun
sifat.
Iman
kepada qadar adalah termasuk tauhid ar-rububiyah. oleh karena itu Imam Ahmad
berkata: "Qadar adafah kekuasaan Allah". Karena, tak syah lagi, qadar
(takdir) termasuk qudrat dan kekuasaanNya yang menyeluruh. Di samping itu,
qadar adalah rahasia Allah yang tersembunyi, tak ada seorangpun yang dapat
mengetahui kecuali Dia, tertulis pada Lauh Mahfuzh dan tak ada seorarangpun
yang dapat melihatnya. Kita tidak tahu takdir baik atau buruk yang telah
ditentukan untuk kita maupun untuk makhluk lainnya, kecuali setelah terjadi
atau berdasarkan nash yang benar
C. Manfaat
Mempelajari Aqidah
Karena Aqidah Islamiyah bersumber dari Allah yang mutlak, maka
kesempurnaannya tidak diragukan lagi. Berbeda dengan filsafat yang merupakan
karya manusia, tentu banyak kelemahannya. Makanya seorang mu'min harus yakin
kebenaran Aqidah lslamiyah sebagai poros dari segala pola laku dan tindakannya
yang akan menjamin kebahagiannya dunia akhirat. Dan merupakan keserasian antara
ruh dan jasad, antara siang dan malam, antara burni dan langit dan antara
ibadah dan adat serta antara dunia dan akhirat. Faedah yang akan diperoleh
orang yang menguasai Aqidah lslamiyah adalah :
1.
Membebaskan dirinya dari ubudiyah/ penghambaan kepada selain Allah, baik
bentuknya kekuasaan, harta, pimpinan maupun lainnya.
2.
Membentuk pribadi yang seimbang yaitu selalu kepada Allah baik dalam
keadaan suka maupun duka.
3.
Dia merasa aman dari berbagai macam rasa takut dan cemas. Takut kepada
kurang rizki, terhadap jiwa, harta, keluarga, jin dan seluruh manusia termasuk
takut mati. Sehingga dia penuh tawakkal kepad Allah (outer focus of control).
4.
Aqidah memberikan kekuatan kepada jiwa , sekokoh gunung. Dia hanya
berharap kepada Allah dan ridho terhadap segala ketentuan Allah.
Aqidah Islamiyah adalah asas persaudaraan / ukhuwah dan persamaan. Tidak
beda antara miskin dan kaya, antara pintar dan bodoh, antar pejabat dan rakyat
jelata, antara kulit putih dan hitam dan antara Arab dan bukan, kecuali
takwanya disisi Allah SWT.
D. Perkembangan Aqidah
Pada masa Rasulullah SAW, aqidah bukan merupakan disiplin ilmu tersendiri
karena masalahnya sangat jelas dan tidak terjadi perbedaan-perbedaan faham,
kalaupun terjadi langsung diterangkan oleh beliau. Makanya kita dapatkan
keterangan para sahabat yang artinya berbunyi : "Kita diberikan keimanan
sebelum AI-Qur'an"
Pada masa pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thaiib timbul pemahaman
-pemahaman baru seperti kelompok Khawarij yang mengkafirkan Ati dan Muawiyah
karena melakukan tahkim lewat utusan masing-masing yaitu Abu Musa Al-Asy'ari dan
Amru bin Ash. Timbul pula kelompok Syiah yang menuhankan Ali bin Abi Thalib dan
timbul pula kelompok dari Irak yang menolak takdir dipelopori oleh Ma'bad
A!-Juhani (Riwayat ini dibawakan ofeh Imam Muslim, lihat Syarh Shohih Muslim
oleh Imam Nawawi, jilid 1 hal. 126) dan dibantah oleh Ibnu Umar karena
terjadinya penyimpangan-penyimpangan. Para ulama menulis bantahan-bantahan
dalam karya mereka. Terkadang aqidah juga digunakan dengan istilah Tauhid,
ushuluddin (pokok-pokok agama), As-Sunnah (jalan yang dicontohkan Nabi
Muhammad), A!-Fiqhul Akbar (fiqih terbesar), Ahlus Sunnah waf Jamaah (mereka
yang menetapi sunnah Nabi dan berjamaah) atau terkadang menggunakan istilah
ahlul hadits atau salaf yaitu mereka yang berpegang atas jaian Rasulullah SAW
dari generasi abad pertama sampai generasi abad ketiga yang mendapat pujian
dari Nabi SAW.
Ringkasnya : Aqidah lslamiyah yang shahih bisa disebut Tauhid, fiqih
akbar, dan ushuiuddin. Sedangkan manhaj (metode) dan contohnya adalah ahlul
hadits, ahlul sunnah dan salaf.
E. Bahaya Penyimpangan Aqidah
Penyimpangan
pada aqidah yang dialami oleh seseorang berakibat fatal dalam seluruh
kehidupannya, bukan saja di dunia tetapi berlanjut sebagai kesengsaraan yang
tidak berkesudahan di akhirat kelak. Dia akan berjalan tanpa arah yang jelas
dan penuh dengan keraguan dan menjadi pribadi yang sakit personaliti. Biasanya
penyimpangan itu disebabkan oleh sejumlah faktor diantaranya :
1.
Tidak menguasainya pemahaman aqidah yang benar karena kurangnya
pengertian dan perhatian. Akibatnya berpaling dan tidak jarang menyalahi bahkan
menentang aqidah yang benar.
2.
Fanatik kepada peninggalan adat dan keturunan. Karena itu dia menolak
aqidah yang benar. Seperti firman Allah SWT tentang ummat terdahulu yang keberatan
menerima aqidah yang dibawa oleh para Nabi dalar~ Surat AI-Baqarah 170 yang
artinya : "Dan apabila dikatakan kepada mereka, "lkutlah apa yang
telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya
mengikuti apa yang tetah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami. "
(Apabila mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak
mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk”
3.
Taklid buta kepada perkataan tokoh-tokoh yang dihormati tanpa melalui
seleksi yang tepat sesuai dengan argumen Al-Qur'an dan Sunnah. Sehingga apabila
tokoh panutannya sesat, maka ia ikut tersesat.
4.
Berlebihan (ekstrim) dalam mencintai dan mengangkat para wali dan orang
sholeh yang sudah meninggal dunia, sehingga menempatkan mereka setara dengan
Tuhan, atau dapat berbuat seperti perbuatan Tuhan. Hal itu karena menganggap
mereka sebagai penengahl antara dia dengan Allah. Kuburan-kuburan mereka
dijadikan tempat meminta, bernadzar dan berbagai ibadah yang seharusnya hanya
ditujukan kepada Allah. Demikian itu pernah dilakukan oleh kaumnya Nabi Nuh AS
ketika mereka mengagungkan kuburan para sholihin. Lihat Surah Nuh 23 yang
artinya : "Dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan penyembahan.
5.
Lengah dan acuh tak acuh dalam mengkaji ajara Islam disebabkan silau
terhadap peradaban Barat yang materialistik itu. Tak jarang mengagungkan para
pemikir dan ilmuwan Barat serta hasil teknologi yang telah dicapainya sekaligus
menerima tingkah laku dan kebudayaan mereka.
6.
Pendidikan di dalam rumah tangga, banyak yang tidak berdasar ajaran
Islam, sehingga anak tumbuh tidak mengenal aqidah Islam. Pada hal Nabi Muhammad
SAW telah memperingatkan yang artinya : "Setiap anak terlahirkan
berdasarkan hihrahnya, maka kedua orang tuanya yang meyahudikannya,
menashranikannya, atau memajusikannya" (HR: Bukhari).
Apabila anak
terlepas dari bimbingan orang tua, maka anak akan dipengaruhi oleh acara l
program televisi yang menyimpang, lingkungannya, dan lain sebagainya.
7.
Peranan pendidikan resmi tidak memberikan porsi yang cukup dalam
pembinaan keagamaan seseorang. Bayangkan, apa yang bisa diperoleh dari 2 jam
seminggu dalam pelajaran agama, itupun dengan informasi yang kering. Ditambah
lagi mass media baik cetak maupun elektronik banyak tidak mendidik kearah
aqidah bahkan mendistorsinya secara besar-besaran.
Tidak ada jalan lain untuk menghindar bahkan menyingkirkan pengaruh
negatif dari hal-hal yang disebut diatas adalah mendalami, memahami dan
mengaplikasikan Aqidah Islamiyah yang shahih agar hidup kita yang sekali dapat
berjalan sesuai kehendak Sang Khalik demi kebahagiaan dunia dan akhirat kita,
Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa' 69 yang artinya : "Dan
barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan
orang-orang yang dianugerahi ni'mat Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin,
orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman
yang sebaik-baiknya. "
Dan juga dalam Surah An-Nahl 97 yang artinya : "Barangsiapa yang
mengerjakan amal shaleh baik laki-Jaki maupun perempuan, dalam keadaan beriman,
maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan
sesungguhnya akan karrri beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih
baik dari apa yang telah mereka kerjakan. "
III
KESIMPULAN
Akidah
Islam adalah prinsip utama dalam pemikiran Isiami yang dapat membina setiap
individu muslim sehingga memandang alam sernesta dan kehidupan dengan kaca mata
tauhid dan melahirkan konotasi-konotasi valid baginya yang merefleksikan
persfektif Islam mengenai berbagai dimensi kehidupan serta menumbuhkan
perasaan-perasaan yang murni dalam dirinya.
Atas
dasar ini, akidah mencerminkan sebuah unsur kekuatan yang mampu menciptakan
mu'jizat dan merealisasikan kemenangan-kemenangan besar di zaman permulaan
Islam.
Demi
membina setiap individu muslim, perlu kiranya kita mengingatkannya tentang
sumbangsih-sumbangsih akidah yang telah dimiliki oleh orang-orang sebelumnya
dan rneyakinkannya akan validitas akidah itu dalam setiap zaman dan
keselarasannya dengan segala era.
Kita
bisa menyimpulkan peranan penting akidah dalam membina manusia di berbagai sisi
dan dimensi kehidupan dalam poin-poin berikut :
1. Dalam Sisi
Pemikiran.
Akidah menganggap manusia sebagai makhluk yang terhormat. Adapun
kesalahan yang terkadang menimpa manusia, adalah satu hal yang biasa dan bisa
diantisipasi dengan taubat. Atas dasar ini, akidah meyakinkannya bahwa ia mampu
untuk meningkatkan diri dan ticlak membuatnya putus asa dari rahmat Allah dan
ampunan-Nya
Akidah juga memberikan kebebasan penuh kepadanya. Namun ia membatasi
kebebasan itu dengan hukum-hukum syariat, pengharnbaan kepada Allah supaya hal
itu tidak menimbulkan kekacauan.
Dari sisi lain, akidah mendorong manusia untuk menuntut ilmu pengetahuan
dan mengikat ilmu pengetahuan itu dengan iman. Karena mernisahkan ilmu
pengetahuan dan iman akan menimbulkan akibat jelek.
Akidah juga memerintahkan akal untuk meneliti dan merenungkan dengan
teliti untuk menyimpulkan sebuah Ushuluddin dan melarangnya untuk bertaklid
dalarn hati itu.
2. Dalam Sisi
Sosial
Akidah
telah berhasil melakukan perombakan besar dalam sisi ini. Di saat masyarakat
Jahiliah hanya mementingkan diri mereka dan kemaslahatannya, dengan mengenal
akidah, mereka relah mengorbankan segala yang mereka miliki demi agama dan
kepentingan sosial.
Akidah
telah berhasil menghancurkan tembok pemisah yang memisahkan antara ketamakan
manusia akan kemasiahatan-kemaslahatan pribadinya dan jiwa berkorban demi
kemaslahatan umum dengan cara menumbuhkan rasa peduli sosial dalam diri setiap
individu.
Akidah
telah berhasil menumbuhkan rasa peduli sosial ini dalam diri setiap individu
dengan cara-cara berikut: menumbuhkan rasa ikut bertanggung jawab terhadap
kepentingan orang lain, menanamkan jiwa berkorban dan mengutamakan orang lain
dan mendorong setiap individu mushn untuk hidup bersama..
Akidah
telah berhasil merubah kondisi pertentangan dan pergolakan yang pernah melanda
masyarakat insani menjadi kondisi salang mengenal dan tolong menolong. Dengan
ini, mereka menjadi sebuah umat bersatu yang disegani oleh bangsa lain.
3. Dalam Sisi
Kejiwaan
Akidah dapat mewujudkan ketenangan dan ketentraman bagi manusia meskipun
bencana sedang menimpa.
Dalam
hal ini akidah telah menggunakan berbagai cara dan metode untuk meringankan
bencana-bencana itu di mata manusia. Di antara cara-cara tersebut adalah
menjelaskan kriteria dunia;bahwa dunia ini adalah tempat derita dan ujian yang
penuh dengan bencana dan derita yang acap kali menimpa manusia. Oleh karena
itu, tidak mungkin bagi manusia untuk rnencari kesenangan dan ketentraman di
dunia ini.
Atas
dasar ini, hendaknya ia berusaha sekuat tenaga demi meraih kesuksesan dalam
ujian Allah di dunia.
Dan
di antara cara-cara tersebut adalah akidah menegaskan bahwa setiap musibah
pasti membuahkan pahala, dan menyadarkan manusia bahwa musibah terbesar yang
adalah musibah yang menimpa agama.
Begitu
juga akidah memotivasi manusia untuk mengenal dirinya. Karena tanpa itu, sulit
baginya untuk dapat menguasai jiwa dan mengekangnya, dan tidak mungkin baginya
dapat mengenal Allah secara sempurna.
Dari
pembahasan-pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa penyakit-penyakit
jiwa yang berbahaya seperti fanatisme, rakus dan egoisme jika tidak diobati,
akan menimbulkan akibat-akibat sosiai dan potitik yang berbahaya, seperti
fitnah yang pernah menimpa muslimin di Saqifah, sebagaimana telah dijelaskan
oleh Imam Ali a.s.
4. Dalam sisi
Akhlak.
Akidah memiliki peranan yang besar dalam membina akhlak setiap individu
muslim sesuai dengan prinsip-prinsip agama yang pahala dan siksa disesuaikan
dengannya, dan bukan hanya sekedar wejangan yang tidak menuntut tanggung-jawab.
Lain halnya dengan aliran-aliran pernikiran hasil rekayasa manusia biasa yang
memusnahkan perasaan diawasi oleh Allah dalam setiap gerak dan rasa tanggung
jawab di hadapan-Nya. Dengan demikian, musnahlah tuntunan-tuntunan akhlak di
kehidupan manusia. Karena akhlak tanpa iman tidak akan pernah teraktualkan
dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar