Rabu, 13 Januari 2016

AQIDAH



 A. Definisi Aqidah
Aqidah menurut bahasa Arab (etimologi) berasal dari kata al­`aqdu – tautsiiqu yang berarti ikatan, at-tautsiiqu yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu yang artinya mengokohkan {menetapkan}, dan ar-rabthu biquw-wah yang berarti mengikat dengan kuat.
Sedangkan menurut istilah (terminalogi}: `aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya.
Jadi, Aqidah Islamiyyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid dan taat kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya. Rasul–rasulnya kitab-kitab-Nya, hari Akhir, takdir baik dan buruk dan mengimanai seluruh apa­ apa yang telah shahih tentang Prinsip-prinsip Agama (Ushuluddin), perkara­-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi Ijman' (konsensus) dari Salafush Shalih, serta seturuh berita-berita qath'i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah yang telah datetapkan menurut A!-Qur'an dan As­Sunnah yang shahih serta ijma' Salafush Shalih.
"Dan Barang siapa yang menta ’ati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni'mat Allah, yaitu: Nabi-nab, para shiddiqin, orang-orang yang matisyahrd dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-barknya” (QS. An-Nisa':69)
B. Pembagian Aqidah
Walaupun masalah qadha' dan qadar menjadi ajang perselisihan di kalangan umat Islam, tetapi Allah telah membukakan hati para hambaNya yang beriman, yaitu para Salaf Shalih yang mereka itu senantiasa rnenempuh jalan kebenaran dafam pemahaman dan pendapat. Menurut mereka qadha' dan qadar adalah termasuk rububiyah Allah atas makhlukNya. Maka masalah ini termasuk ke dalam salah satu di antara tiga macam tauhid menurut pembagian ulama:
Pertama: Tauhid AI-Ufuhiyyah, ialah mengesakan Allah dalam ibadah, yakni beribadah hanya kepada Allah dan karenaNya semata.
Kedua: Tauhid Ar-Rububiyyah, ialah rnengesakan Allah dalam perbuatanNya, yakni mengimani dan meyakini bahwa hanya Allah yang Mencipta, menguasai dan mengatur alam semesta ini.
Ketiga: Tauhid Al-Asma' was-Sifat, ialah mengesakan Allah dalam asma dan sifatNya. Artinya mengimani bahwa tidak ada makhluk yang serupa dengan Allah Subhanahu wa Ta'a(a. dafam dzat, asma maupun sifat.
Iman kepada qadar adalah termasuk tauhid ar-rububiyah. oleh karena itu Imam Ahmad berkata: "Qadar adafah kekuasaan Allah". Karena, tak syah lagi, qadar (takdir) termasuk qudrat dan kekuasaanNya yang menyeluruh. Di samping itu, qadar adalah rahasia Allah yang tersembunyi, tak ada seorangpun yang dapat mengetahui kecuali Dia, tertulis pada Lauh Mahfuzh dan tak ada seorarangpun yang dapat melihatnya. Kita tidak tahu takdir baik atau buruk yang telah ditentukan untuk kita maupun untuk makhluk lainnya, kecuali setelah terjadi atau berdasarkan nash yang benar

C. Manfaat Mempelajari Aqidah
Karena Aqidah Islamiyah bersumber dari Allah yang mutlak, maka kesempurnaannya tidak diragukan lagi. Berbeda dengan filsafat yang merupakan karya manusia, tentu banyak kelemahannya. Makanya seorang mu'min harus yakin kebenaran Aqidah lslamiyah sebagai poros dari segala pola laku dan tindakannya yang akan menjamin kebahagiannya dunia akhirat. Dan merupakan keserasian antara ruh dan jasad, antara siang dan malam, antara burni dan langit dan antara ibadah dan adat serta antara dunia dan akhirat. Faedah yang akan diperoleh orang yang menguasai Aqidah lslamiyah adalah :
1.      Membebaskan dirinya dari ubudiyah/ penghambaan kepada selain Allah, baik bentuknya kekuasaan, harta, pimpinan maupun lainnya.
2.      Membentuk pribadi yang seimbang yaitu selalu kepada Allah baik dalam keadaan suka maupun duka.
3.      Dia merasa aman dari berbagai macam rasa takut dan cemas. Takut kepada kurang rizki, terhadap jiwa, harta, keluarga, jin dan seluruh manusia termasuk takut mati. Sehingga dia penuh tawakkal kepad Allah (outer focus of control).
4.      Aqidah memberikan kekuatan kepada jiwa , sekokoh gunung. Dia hanya berharap kepada Allah dan ridho terhadap segala ketentuan Allah.
Aqidah Islamiyah adalah asas persaudaraan / ukhuwah dan persamaan. Tidak beda antara miskin dan kaya, antara pintar dan bodoh, antar pejabat dan rakyat jelata, antara kulit putih dan hitam dan antara Arab dan bukan, kecuali takwanya disisi Allah SWT.
D. Perkembangan Aqidah
Pada masa Rasulullah SAW, aqidah bukan merupakan disiplin ilmu tersendiri karena masalahnya sangat jelas dan tidak terjadi perbedaan-­perbedaan faham, kalaupun terjadi langsung diterangkan oleh beliau. Makanya kita dapatkan keterangan para sahabat yang artinya berbunyi : "Kita diberikan keimanan sebelum AI-Qur'an"
Pada masa pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thaiib timbul pemahaman -pemahaman baru seperti kelompok Khawarij yang mengkafirkan Ati dan Muawiyah karena melakukan tahkim lewat utusan masing-masing yaitu Abu Musa Al-Asy'ari dan Amru bin Ash. Timbul pula kelompok Syiah yang menuhankan Ali bin Abi Thalib dan timbul pula kelompok dari Irak yang menolak takdir dipelopori oleh Ma'bad A!-Juhani (Riwayat ini dibawakan ofeh Imam Muslim, lihat Syarh Shohih Muslim oleh Imam Nawawi, jilid 1 hal. 126) dan dibantah oleh Ibnu Umar karena terjadinya penyimpangan-penyimpangan. Para ulama menulis bantahan-bantahan dalam karya mereka. Terkadang aqidah juga digunakan dengan istilah Tauhid, ushuluddin (pokok-pokok agama), As-Sunnah (jalan yang dicontohkan Nabi Muhammad), A!-Fiqhul Akbar (fiqih terbesar), Ahlus Sunnah waf Jamaah (mereka yang menetapi sunnah Nabi dan berjamaah) atau terkadang menggunakan istilah ahlul hadits atau salaf yaitu mereka yang berpegang atas jaian Rasulullah SAW dari generasi abad pertama sampai generasi abad ketiga yang mendapat pujian dari Nabi SAW.
Ringkasnya : Aqidah lslamiyah yang shahih bisa disebut Tauhid, fiqih akbar, dan ushuiuddin. Sedangkan manhaj (metode) dan contohnya adalah ahlul hadits, ahlul sunnah dan salaf.
E. Bahaya Penyimpangan Aqidah
Penyimpangan pada aqidah yang dialami oleh seseorang berakibat fatal dalam seluruh kehidupannya, bukan saja di dunia tetapi berlanjut sebagai kesengsaraan yang tidak berkesudahan di akhirat kelak. Dia akan berjalan tanpa arah yang jelas dan penuh dengan keraguan dan menjadi pribadi yang sakit personaliti. Biasanya penyimpangan itu disebabkan oleh sejumlah faktor diantaranya :
1.      Tidak menguasainya pemahaman aqidah yang benar karena kurangnya pengertian dan perhatian. Akibatnya berpaling dan tidak jarang menyalahi bahkan menentang aqidah yang benar.
2.      Fanatik kepada peninggalan adat dan keturunan. Karena itu dia menolak aqidah yang benar. Seperti firman Allah SWT tentang ummat terdahulu yang keberatan menerima aqidah yang dibawa oleh para Nabi dalar~ Surat AI-Baqarah 170 yang artinya : "Dan apabila dikatakan kepada mereka, "lkutlah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang tetah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami. " (Apabila mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk”
3.      Taklid buta kepada perkataan tokoh-tokoh yang dihormati tanpa melalui seleksi yang tepat sesuai dengan argumen Al-Qur'an dan Sunnah. Sehingga apabila tokoh panutannya sesat, maka ia ikut tersesat.
4.      Berlebihan (ekstrim) dalam mencintai dan mengangkat para wali dan orang sholeh yang sudah meninggal dunia, sehingga menempatkan mereka setara dengan Tuhan, atau dapat berbuat seperti perbuatan Tuhan. Hal itu karena menganggap mereka sebagai penengahl antara dia dengan Allah. Kuburan-kuburan mereka dijadikan tempat meminta, bernadzar dan berbagai ibadah yang seharusnya hanya ditujukan kepada Allah. Demikian itu pernah dilakukan oleh kaumnya Nabi Nuh AS ketika mereka mengagungkan kuburan para sholihin. Lihat Surah Nuh 23 yang artinya : "Dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan penyembahan.
5.      Lengah dan acuh tak acuh dalam mengkaji ajara Islam disebabkan silau terhadap peradaban Barat yang materialistik itu. Tak jarang mengagungkan para pemikir dan ilmuwan Barat serta hasil teknologi yang telah dicapainya sekaligus menerima tingkah laku dan kebudayaan mereka.
6.      Pendidikan di dalam rumah tangga, banyak yang tidak berdasar ajaran Islam, sehingga anak tumbuh tidak mengenal aqidah Islam. Pada hal Nabi Muhammad SAW telah memperingatkan yang artinya : "Setiap anak terlahirkan berdasarkan hihrahnya, maka kedua orang tuanya yang meyahudikannya, menashranikannya, atau memajusikannya" (HR: Bukhari).
Apabila anak terlepas dari bimbingan orang tua, maka anak akan dipengaruhi oleh acara l program televisi yang menyimpang, lingkungannya, dan lain sebagainya.
7.      Peranan pendidikan resmi tidak memberikan porsi yang cukup dalam pembinaan keagamaan seseorang. Bayangkan, apa yang bisa diperoleh dari 2 jam seminggu dalam pelajaran agama, itupun dengan informasi yang kering. Ditambah lagi mass media baik cetak maupun elektronik banyak tidak mendidik kearah aqidah bahkan mendistorsinya secara besar-besaran.
Tidak ada jalan lain untuk menghindar bahkan menyingkirkan pengaruh negatif dari hal-hal yang disebut diatas adalah mendalami, memahami dan mengaplikasikan Aqidah Islamiyah yang shahih agar hidup kita yang sekali dapat berjalan sesuai kehendak Sang Khalik demi kebahagiaan dunia dan akhirat kita, Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa' 69 yang artinya : "Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni'mat Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. "
Dan juga dalam Surah An-Nahl 97 yang artinya : "Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh baik laki-Jaki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan karrri beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. "
III
KESIMPULAN
Akidah Islam adalah prinsip utama dalam pemikiran Isiami yang dapat membina setiap individu muslim sehingga memandang alam sernesta dan kehidupan dengan kaca mata tauhid dan melahirkan konotasi-konotasi valid baginya yang merefleksikan persfektif Islam mengenai berbagai dimensi kehidupan serta menumbuhkan perasaan-perasaan yang murni dalam dirinya.
Atas dasar ini, akidah mencerminkan sebuah unsur kekuatan yang mampu menciptakan mu'jizat dan merealisasikan kemenangan-kemenangan besar di zaman permulaan Islam.
Demi membina setiap individu muslim, perlu kiranya kita mengingatkannya tentang sumbangsih-sumbangsih akidah yang telah dimiliki oleh orang-orang sebelumnya dan rneyakinkannya akan validitas akidah itu dalam setiap zaman dan keselarasannya dengan segala era.
Kita bisa menyimpulkan peranan penting akidah dalam membina manusia di berbagai sisi dan dimensi kehidupan dalam poin-poin berikut :
1. Dalam Sisi Pemikiran.
Akidah menganggap manusia sebagai makhluk yang terhormat. Adapun kesalahan yang terkadang menimpa manusia, adalah satu hal yang biasa dan bisa diantisipasi dengan taubat. Atas dasar ini, akidah meyakinkannya bahwa ia mampu untuk meningkatkan diri dan ticlak membuatnya putus asa dari rahmat Allah dan ampunan-Nya
Akidah juga memberikan kebebasan penuh kepadanya. Namun ia membatasi kebebasan itu dengan hukum-hukum syariat, pengharnbaan kepada Allah supaya hal itu tidak menimbulkan kekacauan.
Dari sisi lain, akidah mendorong manusia untuk menuntut ilmu pengetahuan dan mengikat ilmu pengetahuan itu dengan iman. Karena mernisahkan ilmu pengetahuan dan iman akan menimbulkan akibat jelek.
Akidah juga memerintahkan akal untuk meneliti dan merenungkan dengan teliti untuk menyimpulkan sebuah Ushuluddin dan melarangnya untuk bertaklid dalarn hati itu.
2. Dalam Sisi Sosial
Akidah telah berhasil melakukan perombakan besar dalam sisi ini. Di saat masyarakat Jahiliah hanya mementingkan diri mereka dan kemaslahatannya, dengan mengenal akidah, mereka relah mengorbankan segala yang mereka miliki demi agama dan kepentingan sosial.
Akidah telah berhasil menghancurkan tembok pemisah yang memisahkan antara ketamakan manusia akan kemasiahatan-kemaslahatan pribadinya dan jiwa berkorban demi kemaslahatan umum dengan cara menumbuhkan rasa peduli sosial dalam diri setiap individu.
Akidah telah berhasil menumbuhkan rasa peduli sosial ini dalam diri setiap individu dengan cara-cara berikut: menumbuhkan rasa ikut bertanggung jawab terhadap kepentingan orang lain, menanamkan jiwa berkorban dan mengutamakan orang lain dan mendorong setiap individu mushn untuk hidup bersama..
Akidah telah berhasil merubah kondisi pertentangan dan pergolakan yang pernah melanda masyarakat insani menjadi kondisi salang mengenal dan tolong menolong. Dengan ini, mereka menjadi sebuah umat bersatu yang disegani oleh bangsa lain.
3. Dalam Sisi Kejiwaan
Akidah dapat mewujudkan ketenangan dan ketentraman bagi manusia meskipun bencana sedang menimpa.
Dalam hal ini akidah telah menggunakan berbagai cara dan metode untuk meringankan bencana-bencana itu di mata manusia. Di antara cara­-cara tersebut adalah menjelaskan kriteria dunia;bahwa dunia ini adalah tempat derita dan ujian yang penuh dengan bencana dan derita yang acap kali menimpa manusia. Oleh karena itu, tidak mungkin bagi manusia untuk rnencari kesenangan dan ketentraman di dunia ini.
Atas dasar ini, hendaknya ia berusaha sekuat tenaga demi meraih kesuksesan dalam ujian Allah di dunia.
Dan di antara cara-cara tersebut adalah akidah menegaskan bahwa setiap musibah pasti membuahkan pahala, dan menyadarkan manusia bahwa musibah terbesar yang adalah musibah yang menimpa agama.
Begitu juga akidah memotivasi manusia untuk mengenal dirinya. Karena tanpa itu, sulit baginya untuk dapat menguasai jiwa dan mengekangnya, dan tidak mungkin baginya dapat mengenal Allah secara sempurna.
Dari pembahasan-pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa penyakit-penyakit jiwa yang berbahaya seperti fanatisme, rakus dan egoisme jika tidak diobati, akan menimbulkan akibat-akibat sosiai dan potitik yang berbahaya, seperti fitnah yang pernah menimpa muslimin di Saqifah, sebagaimana telah dijelaskan oleh Imam Ali a.s.
4. Dalam sisi Akhlak.
Akidah memiliki peranan yang besar dalam membina akhlak setiap individu muslim sesuai dengan prinsip-prinsip agama yang pahala dan siksa disesuaikan dengannya, dan bukan hanya sekedar wejangan yang tidak menuntut tanggung-jawab. Lain halnya dengan aliran-aliran pernikiran hasil rekayasa manusia biasa yang memusnahkan perasaan diawasi oleh Allah dalam setiap gerak dan rasa tanggung jawab di hadapan-Nya. Dengan demikian, musnahlah tuntunan-tuntunan akhlak di kehidupan manusia. Karena akhlak tanpa iman tidak akan pernah teraktualkan dalam kehidupan sehari-hari.

Senin, 21 Desember 2015

DALAIL PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW

DALIL PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW YANG TAK TERBANTAHKAN.
a. Pengerian
Secara bahasa maulud adalah waktu kelahiran. Secara istilah diartikan sebagai: Perayaan sebagai rasa syukur dan gembira atas kelahiran Rasul SAW yang biasanya dilakukan pada bulan rabi’ul awal atau Mulud (Jawa).
b. Dalil-dalil perayaan Maulid Nabi SAW
Walaupun dalam kenyataannya tata cara perayaan Maulid Nabi SAW berbeda-beda, Namun esensi dari peringatan Maulid Itu sama yaitu Marasa gembira dan bersyukur atas kelhiran Rasululloh SAW yang mana kelahiran Rasululloh SAW adalah sebuah anugerah Alloh kepada kita yang harus disyukuri, sebagaimana firman Alloh SWT:
قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَالِكَ فَلْيَفْرَحُوْا(يونس:١٥٨)
“Katakanlah (Muhammad), sebab anugerah dan rahmat Alloh (kepada kalian), maka bergembiralah mereka.”(QS.Yunus:58)
Dalam sebuah hadis diriwayatkan oleh Imam Muslim dikatakan bahwa Rasululloh SAW mensyukuri hari kelahirannya dengan berpuasa. Dalam sebuah hadis diriwayatkan:
عَنْ أَبِي قَتَادَتَ اْلاَنْصَارِيِّ اَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْاِثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ ولُدِتْ ُوَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ(رواه مسلم، ١٩٧٧)
“Diriwayatkan dari Abu Qatadah al-Anshari RA bahwa Rasululloh pernah ditanya tentang puasa senin, maka beliau menjawab:” Pada hari itulah aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku.”(HR.Muslim:1977)
.
Dalil Kedua,
وَقَالَ اْلاُسْتَاذُ اْلاِمَامُ الْحَافِظُ اْلمُسْنَدُ الذُّكْتُوْرُ اْلحَبِيْبُ عَبْدُ اللهِ بْنِ عَبْدِ اْلقَادِرِ بَافَقِيْهِ بِأَنَّ قَوْلَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ عَظَمَ مَوْلِدِيْ كُنْتُ شَفِيْعًا لَهُ يَوْمَ اْلِقيَامَةِ مَارَوَاهَ ابْنُ عَسَاكِرَ فِى التَّاريْخِ فِى الْجُزْءِ اْلاَوَّلِ صَحِيْفَةُ سِتَّيْنِ وَقَالَ الذَّهَبِى صَحِيْحٌ اِسْنَادُهُ.
Ustadz Imam al-Hafidz al-Musnid DR. Habib Abdullah Bafaqih mengatakan bahwa hadis “man ‘azhzhama maulidy kuntu syafingan lahu yaum al-qiyamati” seperti diriwayatkan Ibnu Asakir dalam Kitab Tarikh, juz 1,hlm 60, menurut Imam Dzaraby sahih sanadnya.
Dalil ketiga dalam kitab Madarij As-shu’ud Syarah al-Barzanji, hlm 15:
قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ عَظَمَ مَوْلِدِيْ كُنْتُ شَفِيْعًا لَهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ.
Rosululloh bersabda:Siapa menhormati hari lahirku, tentu aku akan memberikan syafa’at kepadanya dihari Kiamat.
Dalil keeempat dalam Madarif as-Shu’ud, hlm.16
وَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَنْ عَظَمَ مَوْلِدِ النَّبِي صَلًّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ اَحْيَا الْاِسْلَامَ.
Umar mengatakan: siapa menghormati hari lahir Rosululloh sama artinya menghidupkan Islam.
Sekitar lima abad yang lalu Imam Jalaluddin al-Shuyuthi (849-910 H/1445-1505 M) pernah menjawb polemik tentang perayaan Maulid Nabi SAW. Di dalam al-Hawi li al-Fatawi beliau menjelaskan:
“Ada sebuah pertanyaan tentang perayaan Maulid Nabi Saw pada bulan Rabi’ul Awal, bagaimana hukumnya menurut syara’. Apakah terpuji ataukah tercela? Dan apakah orang yang melakukannya diberi pahala ataukah tidak? Beliau menjawab, “Jawabannya menurut saya bahwa semula perayaan Maulid Nabi Saw,yaitu manusia berkumpul, membaca al- Qur’an dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya sampai perjalanan kehidupannya. Kemudian menghidangkan makanan yang dinikmati bersama, setalah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan,tidak lebih. Semua itu termasuk Bid’ah hasanah. Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan darejat Nabi SAW, manampakkan suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang mulia.”(Al-Hawi li al-Fatawi,juz1,hal.251-252).
Bahkan hal ini juga diakui oleh Ibnu Taimiyyah, sebagaimana dikutip oleh Sayyid Muhammad bin Alawi al – Maliki:
“Ibnu Taimiyyah berkata,”Orang-orang yang melaksanakan perayaan Maulid Nabi SAW, akan diberi pahala. Demikian pula yang dilakukan oleh sebagian orang, adakalanya bertujuan meniru kalangan Nasrani yang memperingati kelahiran Isa AS, dan ada kalanya juga dilakukan sebagai ekspresi rasa cinta dan penghormatan kepada Nabi SAW. Allah SWT akan memberi pahala kepada mereka atas kecintaan mereka kepada Nabi mereka, bukan dosa atas bid’ah yang mereka lakukan.”(Manhaj al-Salaf fi Fahm al-Nushush Bain al-Nazhariyyah wa al-Tathbiq, hal 399).
Selama ini Ibnu Taimiyah dijadikan panutan bagi kelompok – kelompok yang mengingkari, bahkan mengatakan bahwa tradisi dan Amaliah – amaliah NU bid’ah.

NUR MUHAMMAD MAKHLUK PERTAMA YANG DICIPTAKAN ALLAH SWT



Hadits Tentang Nur Muhammad dalam Referensi Ulama

Berikut ini beberapa penjelasan tentang Nur Muhammad yang kami kutip dari beberapa kitab karya ulama, yakni :
1.        Syaikh Khalid al-Azhari mengatakan :
“Sesungguhnya segala tanda-tanda kenabian yang didatangkan dengannya oleh para rasul sesungguhnya berhubung dengan mereka dari pada Nur Nabi Muhammad SAW, karena Nur Nabi SAW telah dicipta terdahulu dari pada mereka”.[1]

2.      Ibrahim al-Bajury berkata :
“Jika dikatakan bagaimana dapat dikatakan mukjizat yang didatangkan oleh para rasul yang mulia kepada umat-umat mereka adalah dari pada Nur Nabi Muhammad SAW, sedangkan para nabi tersebut adalah lebih dahulu ada ? Maka jawabannya ialah Junjungan Nabi SAW adalah terlebih dahulu wujudnya atas segala nabi tersebut yakni dari segi kejadian an-Nur al- Muhammady.”[2]

3.      Imam al-Barzanji berkata dalam sya’ir Maulid al-Nabawy :
وأصلي وأسلم على النور الموصوف بالتقدم والأولية
Artinya : Dan aku mohon rahmat Allah dan kesejahteraan-Nya atas nur yang disifati dengan terdahulu dan yang pertama.[3]
           
4.      An-Nawawi al-Bantany, dalam mensyarah perkataan al-auwaliyah (perkataan al-Barzanji dalam sya’ir Maulid al-Nabawy di atas) mengatakan :
“Keadaan nur itu yang pertama adalah dibandingkan makhluk lainnya, sebagaimana dalam hadits Jabir, beliau bertanya kepada Rasulullah SAW makhluk pertama yang diciptakan Allah Ta’ala, Rasulullah SAW bersabda :

ان الله خلق قبل الأشياء نور نبيك فجعل ذالك النور يدور بالقدرة حيث شاء الله ولم يكن في ذلك الوقت لوح ولا قلم ولا جنة ولا نار ولا ملك ولا انس ولا جن ولا أرض ولا سماء  ولا شمس ولا قمر
Artinya :  Sesungguhnya Allah telah mencipta, sebelum adanya sesuatu, nur nabimu, maka dijadikan nur tersebut beredar dengan kekuasaan qudrahNya menurut yang dikehendaki Allah. Dan belum ada pada waktu itu luh, qalam, syurga, neraka, malaikat, manusia, jin, bumi, langit, matahari dan bulan.[4]

Komentar penulis :
Ini merupakan hadits Jabir riwayat Abdur Razzaq yang ditolak oleh al-Suyuthi sebagaimana keterangan setelah ini. Matannya menyerupai ini telah disebut oleh Ibnu Hajar al-Haitamy dalam Asyraf al-Wasail ila Fahm al-Syamail dengan menyebutkannya sebagai riwayat Abdur Razzaq dari Jabir.[5]

5.      Ditanyai Ibnu Hajar al-Haitamy, semoga Allah memberi manfaat kepadanya, siapakah yang meriwayat hadits  :
أول ما خلق الله روحي والعالم بأسره من نوري كل شيء يرجع إلى أصله
Artinya :  Yang pertama diciptakan Allah adalah ruhku dan alam keseluruhannya dicipta daripada nurku, setiap sesuatu kembali kepada asalnya

Maka beliau menjawab :
 "Aku tidak mengetahui siapa yang meriwayatkannya sedemikian. Dan Sesungguhnya yang diriwayat oleh Abdur Razzaq adalah sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda :
إن الله خلق نور محمد قبل الأشياء من نوره
Artinya : Sesungguhnya Allah telah mencipta Nur Muhammad sebelum segala sesuatu dari pada Nur-Nya.[6]

Hadits riwayat Abdur Razzaq ini juga telah disebut oleh Ibnu Hajar al-Haitamy dalam kitab beliau, Asyraf al-Wasail ila Fahm al-Syamail [7] dan kitab al-Ni’mah al-Kubra ‘ala al-Alam fi Maulidi Sayyidi Waladi Adam.[8]

6.      Imam Abdurrahim bin Ahmad al-Qadhi dalam kitabnya, Daqaiq al-Akhbar mengatakan :
“ Sesungguhnya telah datang khabar bahwa Allah Ta’ala menciptakan pohon dengan empat cabang. Allah Ta’ala menamakannya Syajaratulyaqin. Kemudian dalam hijab, Allah menciptakan Nur Muhammad dari permata putih seperti bentuk burung Merak dan Allah meletakkannya di atas pohon tersebut. Nur Muhammad bertasbih di atasnya selama tujuh puluh ribu tahun. Kemudian Allah Ta’ala menciptakan mar-atul haya’ (cermin malu) dan meletakkannya di hadapan Nur Muhammad. Manakala burung merak (Nur Muhammad) melihat cermin, dia melihat bentuknya yang cantik da sangat bagus, maka dia malu kepada Allah dan berkeringat karenanya. Maka muncullah enam keringat darinya. Dari keringat pertama, Allah Ta’ala menciptakan Abu Bakar r.a., dari keringat kedua Allah menciptakan Umar r.a., dari keringat ketiga Allah menciptakan Usman r.a., dari keringat keempat Allah menciptakan Ali r.a., dari keringat kelima Allah menciptakan bunga dan dari keringat keenam Allah menciptakan gandum………….dst”[9]

Komentar penulis :
  1. Hadits ini bertentangan dengan pemahaman bahwa Nur Muhammad merupakan makhluq yang pertama, karena berdasarkan kandungan hadits ini ada makhluq lain sebelum Nur Muhammad, yakni pohon Syajaratulyaqin dan permata putih.
  2. Hadits ini disebut tanpa perawi dan sanadnya.

7.      Al-Suyuthi, salah seorang ulama besar dalam Mazhab Syafi’i ditanyai mengenai hadits penciptaan Nur Muhammad, yaitu hadits berbunyi :
أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى خَلَقَ نُورَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَزَّأَهُ أَرْبَعَةَ أَجْزَاءٍ فَخَلَقَ مِنَ الْجُزْءِ الْأَوَّلِ الْعَرْشَ، وَخَلَقَ مِنَ الْجُزْءِ الثَّانِي الْقَلَمَ، وَخَلَقَ مِنَ الثَّالِثِ اللَّوْحَ، ثُمَّ قَسَّمَ الْجُزْءَ الرَّابِعَ وَجَزَّأَهُ أَرْبَعَةَ أَجْزَاءٍ، وَخَلَقَ مِنَ الْجُزْءِ الْأَوَّلِ الْعَقْلَ، وَخَلَقَ مِنَ الْجُزْءِ الثَّانِي الْمَعْرِفَةَ، وَخَلَقَ مِنَ الْجُزْءِ الثَّالِثِ نُورَ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ وَنُورَ الْأَبْصَارِ وَنُورَ النَّهَارِ، وَجَعَلَ الْجُزْءَ الرَّابِعَ تَحْتَ سَاقِ الْعَرْشِ مَدْخُورًا
Artinya : Sesungguhnya Allah Ta’ala menjadi Nur Muhammad SAW, maka membagikannya menjadi empat bagian. Allah menjadikan Arasy dari bagian pertama, menjadikan qalam dari bagian kedua dan menjadikan luh dari bagian ketiga. Kemudian membagikan bagian yang keempat dalam empat bagian, menjadikan akal dari bagian pertama, menjadikan ma’rifah dari bagian kedua, menjadikan cahaya matahari, cahaya bulan, cahaya abshar (penglihatan) dan cahaya siang hari dari bagian ketiga dan menjadikan dari bagian yang keempat tersimpan di bawah penyangga Arasy.

Beliau menjawab :
“Hadits yang disebut dalam pertanyaan, tidak ada sanadnya yang dapat dijadikan pegangan.”[10]

Dalam kitab Quut al-Mughtazi ‘ala Jami’ al-Turmidzi, al-Suyuthi berkomentar tentang hadits yang berbunyi :
إن اول ما خلق الله نوري
Artinya : Sesungguhnya yang pertama diciptakan Allah adalah nur aku.
beliau mengatakan, hadits ini tidak datang dengan ini lafazh, maka tidak diperlukan penta’wilan (untuk menghindari pertentangan dengan hadits “yang pertama diciptakan Allah adalah qalam”).[11]

8.        Al-Buwaithi salah seorang murid Imam Syafi’i, menyatakan sunnat memperbanyak shalawat kepada Nabi SAW ketika makan beras, karena beras dijadikan Allah dari Nur Muhammad. Namun al-Bujairumi mempertanyakan fatwa ini, beliau mengatakan :
“Perkataan al-Buwaithi bahwa beras dijadikan dari Nur Muhammad perlu ada tinjauan, karena hadits tentangnya tidak tsubut (tidak shahih).”[12]

9.        Dari Abdullah bin Syaqiq, Rasulullah SAW bersabda :

كُنْتُ نَبِيًّا وَآدَمُ بَيْنَ الرُّوحِ وَالْجَسَدِ
Artinya : Aku sudah menjadi nabi, sedangkan Adam masih antara ruh dan jasad. (H.R. Ibnu Sa’ad)[13]

Hadits ini telah ditakhrij oleh al-Hakim dengan lafazh :
يا رسول الله متى كنت نبيا قال: وآدم بين الروح والجسد
Artinya : Ya Rasulullah kapan engkau menjadi nabi?, Jawab beliau : “Adam antara ruh dan jasad.

Al-Hakim mengatakan shahih dan al-Zahabi mengakui keshahihan itu. Hadits ini juga telah ditakhrij oleh Ahmad dan al-Thabrani. Al-Haitsami mengatakan, rijalnya rijal shahih.[14]
Imam al-Subki dalam mengomentari hadits di atas mengatakan :
 “Sungguh telah datang berita bahwa Allah menjadi ruh-ruh sebelum jasad. Karena itu, perkataan Nabi : “Aku sudah menjadi nabi” di atas merupakan isyarat kepada ruh Nabi yang mulia dan hakikatnya. Sedangkan hakikatnya itu tidak mampu akal kita mengenalnya, hanya penciptanya dan orang-orang yang diberikan kemampuan dengan nur ilahi saja. Kemudian Allah mendatangkan hakikat-hakikat itu menurut yang dikehendaki-Nya pada waktu yang dikehendaki-Nya. Maka hakikat Nabi SAW yang wujud sebelum penciptaan Adam didatangkan Allah sifat kenabian itu padanya, yakni Allah menjadikan hakikat Nabi SAW tersedia untuk sifat kenabian itu dan dilimpahkannya atas hakikat Nabi SAW pada waktu itu, maka jadilah hakikatnya sebagai nabi.[15]

Komentar penulis :
  1. Seandainya diterima pemahaman Imam al-Subki ini, maka hakikat Muhammad yang dimaksud bukan berarti identik dengan Nur Muhammad yang merupakan makhluq pertama ciptaan Allah, karena pemahaman al-Subki ini hanya menunjukan hakikat Muhammad lebih duluan ada dari jasad Adam a.s., bukan lebih duluan dari segala makhluq.
  2. Sebagian ulama menafsirkan, maknanya adalah kenabian Muhammad sudah duluan nyata/dhahir dalam alam arwah dari pada penciptaan Adam a.s. Artinya penciptaan Muhammad sebagai nabi sudah duluan masyhur dalam alam arwah dikalangan Malaikat.
  3. Al-Ghazali mengatakan, maknanya adalah Muhammad sudah duluan menjadi nabi dari pada penciptaan Adam a.s. dalam taqdir bukan dalam penciptaan, sedangkan dalam penciptaan duluan Adam a.s.
  4. Penafsiran lain adalah duluan ada dalam ilmu Allah.
  5. Ibnu Hajar al-Haitami setelah menyebut pendapat-pendapat ulama di atas, termasuk pendapat Imam al-Subki di atas, beliau lebih cenderung kepada pendapat Imam al-Subki.[16]

Syeikh Abu Abdurrahman Abdullah bin Muhammad bin Yusuf Ibn Abdullah bin Jami’ al-Harari, seorang ulama bermazhab Syafi’i (Lahir 1328 H/1910 M) berasal dari negeri Harar (sebuah nama negeri di Somalia sekarang) dalam kitab Sharih al-Bayan, beliau menolak pendapat yang mengatakan Nur Muhammad merupakan ciptaan Allah yang pertama, menurut beliau  makhluq pertama ciptaan Allah adalah air. Argumentasi beliau adalah sebagai berikut:
1.    Firman Allah Ta’ala berbunyi :
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ
Artinya : Kami jadikan setiap sesuatu yang hidup dari air. (Q.S. al-Anbiya : 30)

2.    Hadits riwayat al-Bukhari dan al-Baihaqi berbunyi :
كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ، وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى المَاءِ
Artinya : Adalah Allah, tidak ada sesuatupun selainnya, Arasy ketika itu atas air. (H.R. Bukhari dan al-Baihaqi)[17]

3.    Hadits Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda :
كُلُّ شَيْءٍ خُلِقَ مِنَ الْمَاءِ
Artinya : Setiap sesuatu diciptakan dari air (H.R. Ibnu Hibban)[18]
4.    Diriwayat oleh al-Suddii dalam tafsirnya dengan sanad yang berbeda-beda, berbunyi :
أَنَّ اللَّهَ لَمْ يَخْلُقْ شَيْئًا مِمَّا خَلَقَ قَبْلَ الْمَاءِ
Artinya : Sesungguhnya Allah tidak menciptakan sesuatupun dari apa yang telah diciptakan-Nya sebelum air.[19]

5.    Abdurrazaq sendiri dalam menafsirkan firman Allah Q.S Hud : 7 yang berbunyi :
هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ
 Beliau mengutip perkataan Qatadah berbunyi :
هَذَا بَدْءُ خَلْقِهِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ
Artinya : Ini adalah permulaan penciptaannya sebelum menciptakan langit dan bumi. [20]

6.    Mujahid dalam menafsirkan firman Allah Q.S Hud : 7 di atas mengatakan :
قبل أن يخلق شيئًا.
Artinya : sebelum menciptakan sesuatupun.[21]

7.    Adapun hadits yang disebut-sebut sebagai riwayat Abdurrazaq dari Jabir, menurut beliau ini adalah maudhu’ (palsu). Beliau berargumentasi dengan penjelasan dari al-Suyuthi sebagaimana telah kutip di atas dan juga karena bertentangan dalil-dalil yang beliau kemukakan di atas

8.    Hadits Nur Muhammad yang disebut-sebut diriwayat oleh Abdurrazaq dari Jabir dalam kitab Mushannafnya, menurut beliau ternyata tidak ada dalam kitab tersebut berdasarkan cetakan yang beredar sekarang (zaman hidup beliau)

9.    Yang berpendapat juga bahwa hadits Jabir ini adalah maudhu’ adalah Ahmad bin al-Saddiq al-Ghumari, seorang peneliti hadits yang hidup semasa dengan beliau sebagaimana beliau kemukakan dalam kita ini.[22]
Komentar penulis :
KH Sirajuddin Abbas dalam buku beliau, Sejarah dan Keagungan Mazhab Syafi’i cenderung menolak pendapat bahwa seluruh alam ini terjadi dari Nur Muhammad.[23]

Kesimpulan
  1. Terjadi perbedaan pendapat ulama dalam menanggapi tentang hadits Nur Muhammad
  2. Masalah keberadaan Nur Muhammad bukanlah masalah pokok akidah yang menyebabkan saling menuduh sesat sesama umat Islam hanya karena masalah khilafiyah ini, sehingga tidak mengherankan kalau masalah Nur Muhammad ini hampir dapat dikatakan jarang sekali dibahas dalam kitab–kitab Aqidah, yang banyak pembahasannya hanya dalam kitab kitab-kitab tasauf
  3. Kami tidak dalam posisi menjelaskan pendapat mana yang lebih rajih antara kedua pendapat di atas
  4. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat untuk menambah wawasan keislaman kita dan kepada guru-guru kami, abu-abu/kiyai, seandainya pemahaman kami ini keliru, mohon masukan dan meluruskannya.



[1] Syaikh Khalid al-Azhari, Syarah Matn al-Burdah, dicetak pada hamisy Hasyiah ala Matn al-Burdah, al-Saqafiyah, Surabaya, Hal. 31
[2] Ibrahim al-Bajury, Hasyiah Matn al-Burdah, al-Saqafiyah, Surabaya, Hal. 30
[3] Majmu’ah al-Mawalid, Maktabah Julia Karya, Jakarta, Hal. 72-73
[4] Syaikh an-Nawawi al-Bantany, Madarij al-Su’ud, Syirkah al-Ma’arif, Bandung, Hal. 4
[5] Ibnu Hajar al-Haitamy, Asyraf al-Wasail ila Fahm al-Syamail,  Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Hal. 36
[6] Ibnu Hajar al-Haitamy, al-Fatawa al-Haditsiyah, Hal. 206
[7] Ibnu Hajar al-Haitamy, Asyraf al-Wasail ila Fahm al-Syamail,  Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Hal. 36
[8] Ibnu Hajar al-Haitamy, al-Ni’mah al-Kubra ‘ala al-Alam fi Maulidi Sayyidi Waladi Adam, Maktabah al-Haqiqah, Istambul, Hal. 4
[9] Imam Abdurrahim bin Ahmad al-Qadhi , Daqaiq al-Akhbar, Syirkah al-Ma’arif, Bandung, Hal. 2
[10] Al-Suyuthi, al-Hawy lil Fatawa, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. I, Hal. 323-325
[11] Al-Suyuthi, Quut al-Mughtazi ‘ala Jami’ al-Turmidzi, Juz. I, Hal. 516
[12]Al-Bujairumi, Hasyiah al-Bujairumi ‘ala Syarh al-Khatib, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. III, Hal. 73
[13] Ibnu Sa’ad, al-Thabaqat al-Kubra, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 118
[14] Al-Munawi, Faidh al-Qadir, Maktabah Syamilah, Juz. V, Hal. 53
[15] Al-Suyuthi, al-Hawi lil Fatawa, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. II, Hal. 100-101
[16] Ibnu Hajar al-Haitami, Asyraf al-Wasail ila Fahm al-Syamail,  Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Hal. 34-35
[17] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. IV, Hal. 105, No. 3191
[18] Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban, Maktabah Syamilah, Juz. VI, Hal. 299, No. 2559
[19] Ibnu Hajar al-Asqalani, Fahul Barri, Maktabah Syamilah, Juz. VI, Hal. 289
[20] Abdurrazaq, Tafsir Abdurrazaq, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 182
[21] Al-Thabari, Tafsir al-Thabari, Maktabah Syamilah, Juz. XV, Hal. 245
[22] Abu Abdurrahman Abdullah  al-Harari, Sharih al-Bayan, Hal. 220-222
[23] KH Sirajuddin Abbas, Sejarah dan Keagungan Mazhab Syafi’i, Pustaka Tarbiyah, Jakarta, Hal. 211